Ada bebarapa faktor yang ternyata mempengaruhi belajar anak. Secara garis besar dapat dibedakan dalam dua hal yaitu faktor intern dan faktor extern.
1) Faktor intern
Faktor intern adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu itu sendiri maka disebut dengan faktor individual. Adapun faktor-faktor yang termasuk faktor individu adalah:
a) Kematangan
Dalam memberikan pengajaran kepada anak perlu memperhatikan kematangan ini. Mengajarkan sesuatu baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan telah memungkinkannya, potensi-potensi jasmani dan rohaninya telah matang untuk itu. (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 103)
Seseorang yang telah matang, maka akan membuat fungsi otak dan sistem syarafnya berkembang dengan baik yang akan menumbuhkan kapasitas mental seseorang dan mempengaruhi hal belajar sesorang itu.
b) Motivasi
Winkel mengumpamakan motivasi belajar dengan kekuatan mesin pada mobil. Mesin yang berkekuatan tinggi menjamin lajunya mobil, biarpun jalan menanjak dan mobil membawa muatan berat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dalam motivasi belajar, siswa sendiri berperan sebagai mesin yang kuat atau lemah, maupun sang sopir yang menentukan tujuan. (W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Media Abadi,Yogyakarta, 2004) hal. 169.)
Seseorang tidak mungkin akan mampu berusaha dengan keras untuk belajar jika ia tidak memiliki atau lemah dalam motivasinya. Apapun motif yang ada maka akan membuat ia termotivasi untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan bersungguh-sungguh.
c) Intelegensi
Wasti sumanto menyebutkan bahwa intelegensi seseorang ikut menentukan prestasi belajar seseorang.(Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Rineka Cipta, Jakarta,1998) hal. 121.) Ini adalah suatu ungkapan yang benar, karena betapa kapasitas mental yang ada pada diri seseorang berpengaruh pada belajarnya. Orang yang memiliki intelegensi yang baik, tentu akan lebih cepat untuk menangkap pelajaran dibanding yang berintelegensi rendah.
d) Kondisi pribadi
Kondisi pribadi ini terdiri dari dua hal yaitu kondisi jasmani dan rohani. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit tertentu, kelelahan tentu tidak akan dapat belajar dengan efektif. Cacat fisik juga mengganggu hal belajar. Cacat mental pada seseorang sangat menggangu hal belajar orang yang bersangkutan.
Dari dua kondisi kepribadian tersebut di atas tentu akan mempengaruhi belajar seseorang. Sakit, lelah, dan cacat tubuh tentu akan mempengaruhi belajar seseorang. (Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Rineka Cipta, Jakarta,1998) hal. 121.) Demikian juga sakit ingatan, dalam keadaan sedih, frustasi, senang putus asa juga akan mempengaruhi belajar anak. Demikian juga kemauan, ketekunan dan juga faktor mental belajar akan mempengaruhi belajarnya.
e) Bakat
Bakat adalah faktor dari dalam individu yang juga mempengaruhi seseorang dalam belajarnya. Bakat ini identik dengan pembawaan, hanya saja pembawaan ini sifatnya lebih luas dan menyeluruh dari aspek diri manusia itu baik faktor psikis maupun fisik. Sedangkan bakat lebih dekat dengan pengertian dengan kata aptitude yang berarti “kecakapan pembawaan” yaitu yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu. (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 25)
Dalam buku Psikologi Belajar yang ditulis oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono disebutkan bahwa seseorang yang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakat yang dia miliki. Seseorang yang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang. Peran bimbingan dan konseling dalam hal ini perlu memperhatikannya dan menempatkan siswa sesuai dengan bakat anak tersebut.
f) Minat
Minat termasuk faktor yang mempengaruhi anak dalam belajar. Hal ini seperti yang ditulis oleh dalam buku Psikologi Belajar yang ditulis oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono bahwa tidak adanya minat anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
g) Tipe-tipe balajar anak
Seorang siswa akan mudah belajar bila sesuai dengan tipe belajar anak tersebut. Ada beberapa tipe belajar anak, antara lain:
Seorang yang bertipe visual, akan cepat mempelajari bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik dan gambar. Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan penglihatannya.
Seorang anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah), penjelasan guru dalam menerangkan pelajaran, diskusi (perkataan teman) begitu juga suara. Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan pendengarannya..
Individu yang bertipe motoris, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.84)
2) Faktor ekxtern
a) Keadaan keluarga
Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau tidak mau turut menentukan bagaimana dan sampai mana belajar yang dialami dan dicapai oleh anak-anak. (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 104)
Suasana rumah yang ramai, gaduh, tidak harmonis dan selalu tegang tentu akan berpengaruh pada anak. Sebaliknya, suasana rumah yang harmonis, damai, tenteram dan menyenangkan akan membuat anak betah tinggal di rumah dan berkonsentrasi dalam belajar.
Keadaan ekonomi orang tua sangat berpengaruh pada belajar anak. Ada dua keadaan yaitu kekurangan dan kelebihan. Keluarga yang kurang dalam tingkat ekonominya tentu akan berpengaruh pada belajar anak karena akan menimbulkan adanya efek seperti kurangnya alat belajar, kurangnya biaya yang disediakan orang tua dan juga kemampuan untuk menyediakan tempat belajar yang mencukupi dan mendukung belajar anak. Walaupun bisa jadi kekurangan dalam ekonomi ini akan membangkitkan semangat untuk serius belajar agar tidak sia-sia dan dapat berhasil dengan baik. Sebaliknya, keadaan ekonomi yang berlebihan pun juga bisa mempengaruhi anak. Dengan keadaan yang demikian bisa membuat anak mudah dalam belajar karena alat belajar, fasilitas pendukung dan berbagai hal yang mendukung anak dalam belajar dapat disediakan oleh keluarga. Namun keadaan yang serba melimpah bukan tidak mungkin membuat anak menjadi manja dan malas belajar karena lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.
Perhatian dan cara mendidik anak dalam belajar juga berpengaruh. Karena dengan perhatian yang baik akan membuat anak baik dalam belajarnya. Demikian juga cara mendidik yang tepat akan membuat anak mempunyai mental belajar yang baik pula.
b) Faktor sekolah
Termasuk dalam hal ini adalah guru, faktor alat, kondisi gedung, waktu sekolah dan disipilin.
Guru dapat mempengaruhi belajar anak. Bisa jadi guru menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar anak, antara lain: guru tidak berkualitas, hubungan guru dengan siswa yang tidak baik yang bisa bermula dari sifat yang dimiliki guru seperti pemarah, sinis, dan sifat yang lainnya, guru menuntut standar pelajaran yang jauh dia atas kemampuan anak, guru kurang cakap dalam mendiagnosa kesulitan belajar anak, metode dan tehnik mengajar yang tidak efisien.
Ketersediaan alat belajar akan berpengaruh juga pada belajar anak. Alat pelajaran yang kurang lengkap akan membuat penyajian belajar yang tidak baik. Guru juga akan cenderung menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi anak.
Gedung sekolah juga berpengaruh pada belajar anak. Perlunya gedung yang memenuhi syarat seperti terang, ventilasi cukup, bersih, lantai tidak becek dan licin, kuat, aman dan tidak kalah penting adalah tenang. Hal ini akan membuat anak nyaman dan mudah untuk berkonsentrasi dalam belajar.
Pengaturan kurikulum yang baik akan berpengaruh juga pada anak. Karena bila tidak baik maka akan menimbulkan kesulitan belajar anak.
Waktu belajar yang tepat juga akan mempengaruhi belajar anak. Pemilihan waktu yang tidak tepat akan membuat anak cepat lelah karena waktunya untuk istirahat. Kedisiplinan anak juga akan berpengaruh. Sering terlambat, lalai dalam melaksanakan tugas dan juga berkeliaran tidak karuan. Apalagi yang tidak memiliki kedislipinan itu adalah guru. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.89)
c) Lingkungan dan kesempatan
Lingkungan yang mendukung dengan suasana yang kondusif tentu akan membantu dalam proses belajar anak. Oleh kerena itu menciptakan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar adalah satu hal yang diperlukan dalam mendukung belajar anak. Termasuk lingkungan ini adalah media massa, teman pergaulan dan juga tetangga sekitar.
Kesempatan adalah juga hal yang penting dalam belajar. Banyak anak yang tidak dapat berhasil dengan baik dalam belajarnya karena tidak adanya kesempatan. Banyak waktu yang mereka gunakan untuk menyelesaikan tugas, aktifitas di masyarakat dan pekerjaan sehari-hari di rumah dalam rangka membantu orang tua dan yang lainnya.
Itu adalah sebagian faktor yang mempengaruhi belajar anak. Maka dari itu perlu diperhatikan agar faktor yang ada benar-benar bisa membantu anak dalam belajar.
c. Kebutuhan-kebutuhan dalam belajar
Dalam pelaksanaan balajar, ada kebutuhan-kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukungnya belajar agar anak tersebut belajar dengan baik. Kebutuhan-kebutuhan itu antara lain:
1) Memiliki kondisi fisik yang tetap sehat.
2) Memiliki jadwal belajar di rumah, yang disusun baik dan teratur.
3) Memiliki disiplin pada diri sendiri, patuh dan taat dengan rencana belajar yang telah dijadwalkan.
4) Memiliki kamar/tempat belajar yang sesuai dengan seleranya sendiri dan mendorong kegiatan belajarnya.
5) Menyiapkan peralatan sekolah dengan baik sebelum belajar.
6) Menerangi dalam kamar/tempat belajar dengan sesuai dan tidak mengganggu kesehatan mata.
7) Harus bisa memusatkan perhatian dan konsentrasi dalam belajar.
8) Memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam belajar. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.112)
Kesulitan belajar
Apabila faktor yang mempengaruhi belajar anak tidak ada ataupun juga kurang, maka akan berpengaruh pada belajar anak. Hal ini membuat anak mengalami gangguan dan akan berakibat pada kesulitan belajar anak. Akibat dari hal itu adalah anak tidak dapat mencapai hasil belajar yang baik dan optimal dalam belajarnya.
Kesulitan belajar dapat di definisikan dengan keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.77)
Ada beberapa aspek belajar yang berkaitan dengan kesulitan belajar yang memerlukan layanan bimbingan belajar (akademik) antara lain:
1) Kemampuan belajar yang rendah.
2) Motivasi belajar yang rendah.
3) Minat belajar yang rendah.
4) Tidak berbakat pada mata pelajaran tertentu.
5) Kesulitan berkonsentrasi dalam belajar.
6) Sikap belajar yang tidak terarah.
7) Prestasi belajar rendah.
8) Perilaku mal adaptif dalam belajar seperti suka mengganggu taman ketika belajar.
9) Gagal ujian.
10) Tidak naik kelas.
11) Tidak lulus ujian.