Jumat, 11 Februari 2011

KEGIATAN MENGASYIKKAN

mencoba mencari lagu-lagu lawas
huh, pokoknya bisa membawa diri pada masa lalu


KLASIK_ROCK_MANIA

Sabtu, 05 Februari 2011

BELAJAR

Pengertian

Winkel memberikan definisi belajar dengan:‎
‎“Suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi ‎aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan ‎dalam pengetahuan, pemahanan, ketrampilan dan nilai sikap, ‎perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.”‎ (W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Media Abadi,Yogyakarta, 2004) hal. 59.)
Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa belajar adalah setiap ‎perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi ‎sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman.‎(M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 84)
Dari dua definisi ahli tersebut maka dapat terlihat bahwa belajar ‎adalah suatu aktivitas mental yang merupakan interaksi antara individu ‎dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan pada diri ‎individu tersebut. Perubahan yang terjadi tersebut meliputi ‎pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap, yang bisa disebut meliputi ‎ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Perubahan yang terjadi tersebut ‎bersifat konstan dan menetap.‎


Faktor yang mempengaruhi belajar anak
Ada bebarapa faktor yang ternyata mempengaruhi belajar anak. ‎Secara garis besar dapat dibedakan dalam dua hal yaitu faktor intern ‎dan faktor extern.‎
‎1)‎ Faktor intern

Faktor intern adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu itu ‎sendiri maka disebut dengan faktor individual. Adapun faktor-‎faktor yang termasuk faktor individu adalah:‎
a)‎ Kematangan
Dalam memberikan pengajaran kepada anak perlu ‎memperhatikan kematangan ini. Mengajarkan sesuatu baru dapat ‎berhasil jika taraf pertumbuhan telah memungkinkannya, potensi-‎potensi jasmani dan rohaninya telah matang untuk itu.‎ (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 103)
Seseorang yang telah matang, maka akan membuat fungsi ‎otak dan sistem syarafnya berkembang dengan baik yang akan ‎menumbuhkan kapasitas mental seseorang dan mempengaruhi hal ‎belajar sesorang itu.‎

b)‎ Motivasi
Winkel mengumpamakan motivasi belajar dengan kekuatan ‎mesin pada mobil. Mesin yang berkekuatan tinggi menjamin ‎lajunya mobil, biarpun jalan menanjak dan mobil membawa ‎muatan berat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dalam motivasi ‎belajar, siswa sendiri berperan sebagai mesin yang kuat atau ‎lemah, maupun sang sopir yang menentukan tujuan.‎ (W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Media Abadi,Yogyakarta, 2004) hal. 169.)
Seseorang tidak mungkin akan mampu berusaha dengan ‎keras untuk belajar jika ia tidak memiliki atau lemah dalam ‎motivasinya. Apapun motif yang ada maka akan membuat ia ‎termotivasi untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan ‎bersungguh-sungguh.‎

c)‎ Intelegensi
Wasti sumanto menyebutkan bahwa intelegensi seseorang ‎ikut menentukan prestasi belajar seseorang.(Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Rineka Cipta, Jakarta,1998) hal. 121.)‎ ‎Ini adalah suatu ‎ungkapan yang benar, karena betapa kapasitas mental yang ada ‎pada diri seseorang berpengaruh pada belajarnya. Orang yang ‎memiliki intelegensi yang baik, tentu akan lebih cepat untuk ‎menangkap pelajaran dibanding yang berintelegensi rendah.‎

d)‎ Kondisi pribadi
Kondisi pribadi ini terdiri dari dua hal yaitu kondisi jasmani ‎dan rohani. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit ‎tertentu, kelelahan tentu tidak akan dapat belajar dengan efektif. ‎Cacat fisik juga mengganggu hal belajar. Cacat mental pada ‎seseorang sangat menggangu hal belajar orang yang ‎bersangkutan.‎
Dari dua kondisi kepribadian tersebut di atas tentu akan ‎mempengaruhi belajar seseorang. Sakit, lelah, dan cacat tubuh ‎tentu akan mempengaruhi belajar seseorang.‎ (Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Rineka Cipta, Jakarta,1998) hal. 121.) ‎ Demikian juga ‎sakit ingatan, dalam keadaan sedih, frustasi, senang putus asa ‎juga akan mempengaruhi belajar anak. Demikian juga kemauan, ‎ketekunan dan juga faktor mental belajar akan mempengaruhi ‎belajarnya.‎

e)‎ Bakat
Bakat adalah faktor dari dalam individu yang juga ‎mempengaruhi seseorang dalam belajarnya. Bakat ini identik ‎dengan pembawaan, hanya saja pembawaan ini sifatnya lebih ‎luas dan menyeluruh dari aspek diri manusia itu baik faktor psikis ‎maupun fisik. Sedangkan bakat lebih dekat dengan pengertian ‎dengan kata aptitude yang berarti “kecakapan pembawaan” yaitu ‎yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang ‎tertentu.‎ (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 25)
Dalam buku Psikologi Belajar yang ditulis oleh Abu ‎Ahmadi dan Widodo Supriyono disebutkan bahwa seseorang ‎yang akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakat yang ‎dia miliki. Seseorang yang harus mempelajari sesuatu yang tidak ‎sesuai dengan bakatnya maka akan cepat bosan, mudah putus ‎asa, tidak senang. Peran bimbingan dan konseling dalam hal ini ‎perlu memperhatikannya dan menempatkan siswa sesuai dengan ‎bakat anak tersebut.‎

f)‎ Minat
Minat termasuk faktor yang mempengaruhi anak dalam ‎belajar. Hal ini seperti yang ditulis oleh dalam buku Psikologi ‎Belajar yang ditulis oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono ‎bahwa tidak adanya minat anak terhadap suatu pelajaran akan ‎timbul kesulitan belajar. ‎

g)‎ Tipe-tipe balajar anak
Seorang siswa akan mudah belajar bila sesuai dengan tipe ‎belajar anak tersebut. Ada beberapa tipe belajar anak, antara lain:‎
Seorang yang bertipe visual, akan cepat mempelajari bahan ‎yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik dan gambar. ‎Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat ‎dengan penglihatannya.‎
Seorang anak yang bertipe auditif, mudah mempelajari ‎bahan yang disajikan dalam bentuk suara (ceramah), penjelasan ‎guru dalam menerangkan pelajaran, diskusi (perkataan teman) ‎begitu juga suara. Pokoknya mudah mempelajari bahan pelajaran ‎yang dapat dilihat dengan pendengarannya..‎
Individu yang bertipe motoris, mudah mempelajari bahan ‎yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan.‎ (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.84)

2)‎ Faktor ekxtern

a)‎ Keadaan keluarga
Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau ‎tidak mau turut menentukan bagaimana dan sampai mana belajar ‎yang dialami dan dicapai oleh anak-anak.‎ (M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998) hal. 104)
Suasana rumah yang ramai, gaduh, tidak harmonis dan ‎selalu tegang tentu akan berpengaruh pada anak. Sebaliknya, ‎suasana rumah yang harmonis, damai, tenteram dan ‎menyenangkan akan membuat anak betah tinggal di rumah dan ‎berkonsentrasi dalam belajar.‎
Keadaan ekonomi orang tua sangat berpengaruh pada ‎belajar anak. Ada dua keadaan yaitu kekurangan dan kelebihan. ‎Keluarga yang kurang dalam tingkat ekonominya tentu akan ‎berpengaruh pada belajar anak karena akan menimbulkan adanya ‎efek seperti kurangnya alat belajar, kurangnya biaya yang ‎disediakan orang tua dan juga kemampuan untuk menyediakan ‎tempat belajar yang mencukupi dan mendukung belajar anak. ‎Walaupun bisa jadi kekurangan dalam ekonomi ini akan ‎membangkitkan semangat untuk serius belajar agar tidak sia-sia ‎dan dapat berhasil dengan baik. Sebaliknya, keadaan ekonomi ‎yang berlebihan pun juga bisa mempengaruhi anak. Dengan ‎keadaan yang demikian bisa membuat anak mudah dalam belajar ‎karena alat belajar, fasilitas pendukung dan berbagai hal yang ‎mendukung anak dalam belajar dapat disediakan oleh keluarga. ‎Namun keadaan yang serba melimpah bukan tidak mungkin ‎membuat anak menjadi manja dan malas belajar karena lebih ‎banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. ‎
Perhatian dan cara mendidik anak dalam belajar juga ‎berpengaruh. Karena dengan perhatian yang baik akan membuat ‎anak baik dalam belajarnya. Demikian juga cara mendidik yang ‎tepat akan membuat anak mempunyai mental belajar yang baik ‎pula.‎

b)‎ Faktor sekolah
Termasuk dalam hal ini adalah guru, faktor alat, kondisi ‎gedung, waktu sekolah dan disipilin.‎
Guru dapat mempengaruhi belajar anak. Bisa jadi guru ‎menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar anak, antara lain: guru ‎tidak berkualitas, hubungan guru dengan siswa yang tidak baik ‎yang bisa bermula dari sifat yang dimiliki guru seperti pemarah, ‎sinis, dan sifat yang lainnya, guru menuntut standar pelajaran ‎yang jauh dia atas kemampuan anak, guru kurang cakap dalam ‎mendiagnosa kesulitan belajar anak, metode dan tehnik mengajar ‎yang tidak efisien.‎
Ketersediaan alat belajar akan berpengaruh juga pada ‎belajar anak. Alat pelajaran yang kurang lengkap akan membuat ‎penyajian belajar yang tidak baik. Guru juga akan cenderung ‎menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi ‎anak.‎
Gedung sekolah juga berpengaruh pada belajar anak. ‎Perlunya gedung yang memenuhi syarat seperti terang, ventilasi ‎cukup, bersih, lantai tidak becek dan licin, kuat, aman dan tidak ‎kalah penting adalah tenang. Hal ini akan membuat anak nyaman ‎dan mudah untuk berkonsentrasi dalam belajar.‎
Pengaturan kurikulum yang baik akan berpengaruh juga ‎pada anak. Karena bila tidak baik maka akan menimbulkan ‎kesulitan belajar anak.‎
Waktu belajar yang tepat juga akan mempengaruhi belajar ‎anak. Pemilihan waktu yang tidak tepat akan membuat anak ‎cepat lelah karena waktunya untuk istirahat. Kedisiplinan anak ‎juga akan berpengaruh. Sering terlambat, lalai dalam ‎melaksanakan tugas dan juga berkeliaran tidak karuan. Apalagi ‎yang tidak memiliki kedislipinan itu adalah guru.‎ (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.89)

c)‎ Lingkungan dan kesempatan
Lingkungan yang mendukung dengan suasana yang ‎kondusif tentu akan membantu dalam proses belajar anak. Oleh ‎kerena itu menciptakan suasana lingkungan yang kondusif untuk ‎belajar adalah satu hal yang diperlukan dalam mendukung belajar ‎anak. Termasuk lingkungan ini adalah media massa, teman ‎pergaulan dan juga tetangga sekitar.‎
Kesempatan adalah juga hal yang penting dalam belajar. ‎Banyak anak yang tidak dapat berhasil dengan baik dalam ‎belajarnya karena tidak adanya kesempatan. Banyak waktu yang ‎mereka gunakan untuk menyelesaikan tugas, aktifitas di ‎masyarakat dan pekerjaan sehari-hari di rumah dalam rangka ‎membantu orang tua dan yang lainnya.‎
Itu adalah sebagian faktor yang mempengaruhi belajar anak. ‎Maka dari itu perlu diperhatikan agar faktor yang ada benar-benar bisa ‎membantu anak dalam belajar.‎

c.‎ Kebutuhan-kebutuhan dalam belajar
Dalam pelaksanaan balajar, ada kebutuhan-kebutuhan anak ‎yang harus dipenuhi. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukungnya ‎belajar agar anak tersebut belajar dengan baik. Kebutuhan-kebutuhan ‎itu antara lain:‎
‎1)‎ Memiliki kondisi fisik yang tetap sehat.‎
‎2)‎ Memiliki jadwal belajar di rumah, yang disusun baik dan teratur.‎
‎3)‎ Memiliki disiplin pada diri sendiri, patuh dan taat dengan rencana ‎belajar yang telah dijadwalkan.‎
‎4)‎ Memiliki kamar/tempat belajar yang sesuai dengan seleranya sendiri ‎dan mendorong kegiatan belajarnya.‎
‎5)‎ Menyiapkan peralatan sekolah dengan baik sebelum belajar.‎
‎6)‎ Menerangi dalam kamar/tempat belajar dengan sesuai dan tidak ‎mengganggu kesehatan mata.‎
‎7)‎ Harus bisa memusatkan perhatian dan konsentrasi dalam belajar.‎
‎8)‎ Memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam belajar.‎ (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.112)

Kesulitan belajar
Apabila faktor yang mempengaruhi belajar anak tidak ada ‎ataupun juga kurang, maka akan berpengaruh pada belajar anak. Hal ini ‎membuat anak mengalami gangguan dan akan berakibat pada kesulitan ‎belajar anak. Akibat dari hal itu adalah anak tidak dapat mencapai hasil ‎belajar yang baik dan optimal dalam belajarnya.‎
Kesulitan belajar dapat di definisikan dengan keadaan di mana ‎anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.‎ (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004) hal.77)
Ada beberapa aspek belajar yang berkaitan dengan kesulitan ‎belajar yang memerlukan layanan bimbingan belajar (akademik) antara ‎lain:‎
‎1)‎ Kemampuan belajar yang rendah.‎
‎2)‎ Motivasi belajar yang rendah.‎
‎3)‎ Minat belajar yang rendah.‎
‎4)‎ Tidak berbakat pada mata pelajaran tertentu.‎
‎5)‎ Kesulitan berkonsentrasi dalam belajar.‎
‎6)‎ Sikap belajar yang tidak terarah.‎
‎7)‎ Prestasi belajar rendah.‎
‎8)‎ Perilaku mal adaptif dalam belajar seperti suka mengganggu taman ‎ketika belajar.‎
‎9)‎ Gagal ujian.‎
‎10)‎ Tidak naik kelas.‎
‎11)‎ Tidak lulus ujian.‎
(Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Intregrasi), (Rajawali Press, Jakarta, 2007), halaman 129.)